Kebudayaan merupakan identitas
suatu bangsa yang harus dihormati dan dijaga serta perlu dilestarikan agar
kebudayaan tersebut tidak punah dan bisa menjadi warisan bagi generasi yang
akan datang.
Indonesia merupakan salah satu
bangsa yang memiliki kebudayaan yang sangat beraneka ragam, baik jumlahnya
maupun bentuknya. Keanekaragaman inilah yang membuat Indonesia memiliki daya
tarik yang kuat bagi bangsa lainnya untuk mengetahuinya bahkan mempelajarinya.
Salah satu wujud budaya yang
dimiliki bangsa Indonesia tepatnya di Lombok yang menyimpan banyak warisan
budaya yang bernilai sosial dan moral yang bermanfaat bagi kehidupan adalah
"Nyeput".
Nyeput adalah tradisi yang dikenal
oleh masyarakat sasak khususnya penggiat naskah-naskah kuno, tradisi tersebut dilakukan
dengan memilih atau mencabut salah satu lembar takepan yang ada di dalam sebuah
naskah yang kita pilih, kemudian dibacakan dan dimaknai isi dari lembar yang
dipilih tersebut, percaya atau tidak dikatakan bahwa makna dari isi lembaran
naskah yang kita ambil merupakan cerminan perjalanan kisah hidup dari seseorang
yang mengambil lebaran naskah tersebut. Tradisi nyeput memiliki syarat yang
perlu dipenuhi yaitu menyediakan dua wadah yang berisikan bunga, buah pinang,
daun sirih, beras, kapur, tembakau, benang dan beberapa uang logam.
Pada artikel kali ini, penulis ingin
menceritakan sedikit pengalaman yang dirasakan saat melalukan tradisi nyeput. Proses nyeput ini dilakukan lakukan pada hari Jum’at,
dengan tempat dan penggiat naskah yang sama seperti pada artikel sebelumnya,
yaitu bersama Papuq Mudhan yang berada
di Dusun Manggu Daye, Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok
Tengah.
Hal
pertama yang dilakukan sebelum memulai tradisi nyeput ini adalah menyiapkan
persyaratan nyeput seperti yang dipaparkan sebelumnya. Jika semua persyaratan telah
dipenuhi, hal yang dilakukan selanjutnya mencabut atau mengambil salah satu lembar
takepan pada naskah puspakerma. Namun sebelum penulis mengambil lembar takepan tersebut,
penulis terlebih dahulu mengucapkan bismillah dengan harapan lembar yang diambil
merupakan sesuatu yang baik untuk kehidupan yang akan datang. Setelah mengambil
satu lembar naskah tersebut, penulis menyerahkannya kepada papuq Mudhan untuk dibacakan
isi dari lembar yang dipilih tersebut. Ternyata setelah dibacakan isinya,
lembar takepan yang penulis ambil merupakan tembang “puh dorme”.
![]() |
| (tembang puh dorme) |
"bagaikan ombak yang datang dan pergi"
Isi dari sebuah naskah kuno tentunya memiliki makna penting untuk kehidupan. Jadi untuk memaknai isi dari salah lembar dari naskah (puspakerma) dengan tembang “puh dorme” yang penulis pilih, digunakan pendekatan sastra yaitu melalui kajian pragmatik. Pragmatik adalah sebuah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Berdasarkan apa yang penulis tangkap dari penturan Papuq Mudhan tentang makna yang terkandung dalam tembang “puh dorme” dalam naskah puspakerma tersebut, yaitu mengenai karakter pribadi, sisi keluarga, dan perjalanan hidup penulis kedepannya.
Bila dilihat dari nilai-nilai yang didapat dari hasil nyeput tersebut, penulis merasa senang karena apa yang didapat adalah sesuatu yang baik, walaupun begitu, penulis menjadikan hasil nyeput ini sebagai pengalaman sekaligus pembelajaran untuk menjadi lebih baik, karena sesungguhnya perjalanan hidup menuju masa depan memiliki banyak rintangan yang harus kita lalui untuk mampu memaknai arti hidup yang sebenarnya serta dapat mensyukuri apa yang dicapai.
Inilah cerita singkat yang bisa penulis bagikan kepada kalian, semoga kita terus melestarikan budaya yang kita miliki ini.

