Rabu, 13 November 2019

MENERAWANG MASA DEPAN MELALUI "NYEPUT"




Kebudayaan merupakan identitas suatu bangsa yang harus dihormati dan dijaga serta perlu dilestarikan agar kebudayaan tersebut tidak punah dan bisa menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.
Indonesia merupakan salah satu bangsa yang memiliki kebudayaan yang sangat beraneka ragam, baik jumlahnya maupun bentuknya. Keanekaragaman inilah yang membuat Indonesia memiliki daya tarik yang kuat bagi bangsa lainnya untuk mengetahuinya bahkan mempelajarinya.
Salah satu wujud budaya yang dimiliki bangsa Indonesia tepatnya di Lombok yang menyimpan banyak warisan budaya yang bernilai sosial dan moral yang bermanfaat bagi kehidupan adalah "Nyeput".
Nyeput adalah tradisi yang dikenal oleh masyarakat sasak khususnya penggiat naskah-naskah kuno, tradisi tersebut dilakukan dengan memilih atau mencabut salah satu lembar takepan yang ada di dalam sebuah naskah yang kita pilih, kemudian dibacakan dan dimaknai isi dari lembar yang dipilih tersebut, percaya atau tidak dikatakan bahwa makna dari isi lembaran naskah yang kita ambil merupakan cerminan perjalanan kisah hidup dari seseorang yang mengambil lebaran naskah tersebut. Tradisi nyeput memiliki syarat yang perlu dipenuhi yaitu menyediakan dua wadah yang berisikan bunga, buah pinang, daun sirih, beras, kapur, tembakau, benang dan beberapa uang logam.
Pada artikel kali ini, penulis ingin menceritakan sedikit pengalaman yang dirasakan saat melalukan tradisi nyeput. Proses nyeput ini dilakukan lakukan pada hari Jum’at, dengan tempat dan penggiat naskah yang sama seperti pada artikel sebelumnya, yaitu bersama Papuq Mudhan yang berada di Dusun Manggu Daye, Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah.
Hal pertama yang dilakukan sebelum memulai tradisi nyeput ini adalah menyiapkan persyaratan nyeput seperti yang dipaparkan sebelumnya. Jika semua persyaratan telah dipenuhi, hal yang dilakukan selanjutnya mencabut atau mengambil salah satu lembar takepan pada naskah puspakerma. Namun sebelum penulis mengambil lembar takepan tersebut, penulis terlebih dahulu mengucapkan bismillah dengan harapan lembar yang diambil merupakan sesuatu yang baik untuk kehidupan yang akan datang. Setelah mengambil satu lembar naskah tersebut, penulis menyerahkannya kepada papuq Mudhan untuk dibacakan isi dari lembar yang dipilih tersebut. Ternyata setelah dibacakan isinya, lembar takepan yang penulis ambil merupakan tembang “puh dorme”

(tembang puh dorme)
                                 "bagaikan ombak yang datang dan pergi"
Isi dari sebuah naskah kuno tentunya memiliki makna penting untuk kehidupan. Jadi untuk memaknai isi dari salah lembar dari naskah (puspakerma) dengan tembang “puh dorme”  yang penulis pilih, digunakan pendekatan sastra yaitu melalui kajian pragmatik. Pragmatik adalah sebuah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Berdasarkan apa yang penulis tangkap dari penturan Papuq Mudhan tentang makna yang terkandung dalam tembang  “puh dorme” dalam naskah puspakerma tersebut, yaitu mengenai karakter pribadi, sisi keluarga, dan perjalanan hidup penulis kedepannya.
Bila dilihat dari nilai-nilai yang didapat dari hasil nyeput tersebut, penulis merasa senang karena apa yang didapat adalah sesuatu yang baik, walaupun begitu, penulis menjadikan hasil nyeput ini sebagai pengalaman sekaligus pembelajaran untuk menjadi lebih baik, karena sesungguhnya perjalanan hidup menuju masa depan memiliki banyak rintangan yang harus kita lalui untuk mampu memaknai arti hidup yang sebenarnya serta dapat mensyukuri apa yang dicapai.
Inilah cerita singkat yang bisa penulis bagikan kepada kalian, semoga kita terus melestarikan budaya yang kita miliki ini.